Sunday, 30 March 2008

Nong Nooch, si Gadis Manis Sejuta Pesona



Sewaktu masih bertugas di Tanjung Balai Karimun, saya pernah menulis sebuah artikel tentang desa wisata. Di Karimun ada sebuah desa yang memiliki pemandangan eksotik dan kaya dengan sejarah budaya Melayu, namanya Desa Pulau Tulang. Saya membayangkan desa Tulang akan menjadi kawasan wisata terpadu dengan mengandalkan ragam budaya Melayu, taman bunga dan permainan tradisionalnya (http://karimun-bangkit.blogspot.com) sehingga menjadi ikon budaya bagi pariwisata di Kabupaten Karimun.

Ternyata bayangan itu saya temukan di Nong Nooch, sebuah desa indah yang menjadi obyek wisata andalan Thailand. Terletak tidak jauh dari Pattaya, sekitar 15 km arah tenggara.

Nong Nooch dalam bahasa Thai dibaca ‘nong nut’ artinya Gadis Manis. Dan memang Nong Nooch Village semanis namanya.

Memasuki kawasan wisata ini kami disuguhi pemandangan indah beranka ragam bunga. Sepanjang jalan dari batas desa sampai ke lokasi wisata (pentas tari tradisional dan pertunjukan gajah) warna-warni bunga menghiasi sepanjang jalan. Beraneka ragam jenis bunga, dari bogenvil, anggrek, kamboja, dan entah bunga apa lagi saya tidak terlalu hafal namanya. Yang jelas berwarna-warni dan indah dipandang.

Setelah bis berhenti, kami mendapatkan pemandangan indah bangunan yang dibuat dari kumpulan benda mirip guci atau semacamnya yang disusun membentuk aneka bangunan, hiasan taman, gajah, tuk-tuk dan banyak lagi. Tersusun dengan begitu indah. Di sini juga ada binatang-binatang yang jinak disiapkan untuk foto bersama. Ada burung, orang utan, monyet, sampai anak harimau. Di bagian belakang ada kebun anggrek dan aneka bunga yang sangat indah dan tertata rapi. Luasnya mencapai 2 hektar. Jadi pengunjung bisa dengan puas menikmati pemandangan aneka bunga.

Menuju rumah tradisional Thai dan tempat pementasan tari, kami juga disuguhi pemandangan aneka bunga. Sekali lagi sangat menakjubkan. Taman bunga yang terhampar begitu luas dan indahnya. Saya membayangkan seperti di negeri Belanda yang banyak bunga tulipnya. Para wisatawan memilih tempat mereka untuk berfoto dengan background aneka bunga pilihan masing-masing.

Acara pentas seni segera dimulai. Kami bergegas menuju tempat tersebut.
Sebagai tari pembuka seperti layaknya tari persembahan. Ada puluhan penari yang tampil dengan busana tradisional mereka. Ada seorang putri di tengah-tengah para penari lain. Seni tradisional ini ingin menunjukkan ragam dan kekayaan budaya Thailand, buktinya disana ada barongsai dan ada wayang, sebuah perpaduan budaya asia bagian utara dan selatan.

Selanjutnya berbagai ragam budaya ditampilkan. Mulai dari Thai Boxing, pertunjukan tabuh bedug yang sangat rancak (jadi teringat rampak kendang-nya jawa Barat) sampai berbagai jenis dari pergaulan muda-mudi Thailand. Yang tidak kalah menarik adalah figthing show yang menampilkan perang tradisional, ada yang dengan pedang, tangan kosong, toya, boxing sampai perang gajah.

Menyaksikan tari tradisional ini membuat saya menikmati perjalanan wisata ini. Ternyata Thailand tidak hanya mengandalkan woman show atau show-show yang banyak kita temukan di Pattaya saja, melainkan juga kekayaan ragam budaya yang memikat. Setelah menikmati sajian tari tradisional kami menuju tempat pertunjukan gajah dan kemudian makan siang di restoran yang tidak jauh dari sini. Masih di Nong Nooch Village, sebuah desa dengan sejuta pesona.

Thepprasit Honey dan Seribu Khasiat



Dalam perjalanan ke Bangkok dari Pattaya, kami singgah di sebuah perusahaan pengolahan madu yang bernama Thepprasit Project Co. Ltd. Mereka mengolah 3 jenis makanan yang memiliki kmiripan yaitu Madu, Bee Pollen dan Royal Jelly.

Begitu sampai di halaman kantor sederhana itu, kami diajak masuk ke kantor dan langsung dipersilakan duduk di sebuah ruang pertemuan di lantai 2. Meeting room sederhana, dan tidak menunjukkan bahwa ini sebuah kantor perusahaan internasional. Peralatan kantor yang biasa, hanya ada beberapa komputer di meja kerja staf. Ruang pertemuan yang berkapasitas sekitar 25 orang memang pas dengan jumlah kami. Hidangan minuman dari madu langsung kami minum dan menjadi penyegar tenggorokan kami yang sudah haus dari tadi.

Seorang wanita setengah baya, berumur kurang lebih 40 tahun menyapa kami dan dia mempersilakan kami meminum madu yang terhidang di meja.
Dengan berbahasa Indonesia cukup lancar, Ia mulai memperkenalkan diri dan menyatakan akan menceritakan beberapa hal tentang madu, bee pollen dan royal jelly.

Madu yang diproduksi Thepprasit Corporation ini tidak berasal dari lebah seperti pada umumnya, melainkan berasal dari bunga opium yang ditanam di daerah utara Thailand, tepatnya di kawasan Chiang Ray. Berbeda dengan opium yang dijadikan narkoba, madu dari opium ini tidak membuat ketagihan dan sama sekali tidak berbahaya malah justru memiliki khasiat yang banyak dan sangat bermanfaat. Opium yang dijadikan narkoba itu dibuat dari buah opium, tapi madu traprasit dibuat dari bunganya.

Meminum madu ini denegan teratur dan komposisi yang tepat dapat menyembuhkan panas dalam, mencegah inveksi, menetralisir oksidan dan menyembuhkan sariawan atau panas dalam. Minum madu juga baik bagi perokok untuk menetraslisir nikotin dan mencegah kanker paru-paru.

Namun ada syarat khusus dalam penyajian madu ini, yaitu tidak boleh menggunakan sendok dari bahan besi dan tidak boleh dicampur dengan air panas. Keduanya akan menghilangkan kandungan madu dan kandungan dalam besi yang bersenyawa dengan madu akan menghilangkan khasiatnya.

Bee Pollen dihasilkan dari jejak kaki lebah yang tertinggal di sarangnya. Bee Pollen juga memiliki kandungan yang bermanfaat banyak untuk manusia. Ada 22 jenis viatamin yang terkandung dalam bee pollen, membersihkan usus, membakar lemak, menyembuhkan keluhan prostat dan penyakit saluran pembuangan.

Sedangkan Royal Jelly dihasilkan dari susu lebah. Karena berasal dari susu, maka royal jelly sangat bermanfaat bagi pertumbuhan, membuat awet muda, mencegah penuaan dan monopause, meremajakan dan mengencangkan kulit. Royal jelly juga bisa dijadikan masker atau scrub wajah, menghilangkan jerawat dan mengganti darah kotor. Untuk mengatasi rasa sakit, minum royal jelly dapat menghilangkan rematik, asam urat, sakit maag dan baik juga untuk orang hamil, memperbaiki kualitas sperma dan meningkatkan kecerdasan otak. Disarankan untuk dijadikan multivitamin bagi anak-anak.

Demikianlah ibu setengah baya itu menerangkan dengan jelas apa dan bagaimana serta manfaat dari ketiga jenis produk yang ada di tempatnya bekerja itu. Setelah menjelaskan manfaat dan khasiatnya, ia lalu mempersilakan kami mencoba masing-masing produk tersebut.

Entah karena terpikat cara menjelaskannya yang sangat baik atau karena memahami manfaat ketiga jenis produk dari lebah itu sehingga sebagian besar dari kami membeli produk yang harganya cukup terjangkau, antara 650-3000 Baht.

Sesaat kemudian ada beberapa orang wanita muda yang membantu Ibu tadi untuk melayani pembelian kami. Mereka membawakan madu, bee pollen dan royal jelly dalam beberapa ukuran kemasan, memberikan kuitansi dan langsung melakukan transaksi di ruang pertemuan tersebut. Untuk pembelian dalam jumlah tertentu, misalnya 3000 Baht, pembeli mendapatkan bonus madu kemasan 60 ml.

Berbeda dengan cara menawarkan barang pada saat di pusat permata Gems Gallery yang dikemas dengan begitu mengesankan dengan visualisasi 3 dimensi, disini kami hanya mendengarkan penjelasan dari seorang wanita setengah baya namun juga membuat kami terkesan. Mungkin karena cara penyampaiannya yang lancar dan sikapnya yang bersahabat, atau karena penjelasan yang gamblang atas manfaat ari produk yang ditawarkan sehingga membuat kami terpengaruh untuk membeli.

Saya yang sudah berencana untuk tidak berbelanja lagi, tiba-tiba menyetujui untuk membeli madu dalam kemasan 1000 gram yang harganya 970 Baht. Saat itu juga saya menukarkan uang 50 USD yang masih ada di dompet menjadi Baht Thailand untuk membayar madu yang akan saya jadikan oleh-oleh untuk ayah tercinta.

Permata dan Simbol Cinta di Gems Gallery



Permata adalah salah satu simbol kemewahan, kemurnian, keanggunan dan juga cinta. Begitulah salah satu ungkapan yang disampaikan narator dalam sebuah perjalanan menyelusuri gua ‘permata’ di Gems Gallery Pattaya, Chonburi.
Kali ini kami mengunjungin sebuah galeri permata terbesar di dunia, Gems Gallery namanya.

Seperti biasa, begitu kami menginjakkan kaki di lobby galeri yang semewah hotel berbintang ini, kami disambut oleh para nong-nong (gadis-gadis) cantik yang mengucapkan salam seraya mengatupkan telapak tangannya di depan wajahnya sambil sedikit menundukkan kepala dan mengucapkan: sawatdi ka….

Kami kemudian dibawa ke sebuah tempat mirip stasiun kereta. Kami dipersilakan naik ke sebuah kereta listrik berkapasitas 8 orang. 4 orang di sebelah kiri dan 4 lainnya disebelah kanan. Di depan kursi ada tombol bergambar bendera negara-negara, salah satunya merah-putih. Ternyata itu adalah pilihan bahasa pengantar untuk narator.

Saat kereta listrik berkecapatan rendah itu berjalan, sang narator mulai berbicara lewat speaker yang ada persis di samping telinga. Suara lembut seorang wnaita itu menceritakan bagaimana sejarah terbentuknya batu permata. Kereta itu melewati sebuah terowongan gelap mirip sebuah gua. Ada beberapa tempat kereta berhenti dan disana kita melihat sebuah visualisasi 3 dimensi yang menakjubkan.

Beberapa saat kemudian kereta berhenti. Di samping kiri kami ada sebuah gunung berapi yang sedang memuntahkan lahar. Suara gemuruh dan bunyi tanah yang bergerak serta cahaya-cahaya seperti api yang menyala dan bara yang muncul dari balik tanah-tanah yang bergerak membuat kami seakan-akan benar-benar mengalami peristiwa gunung berapi.

Dari speaker yang ada pada sandaran kursi, narator menceritakan bahwa proses ini terjadi ratusan tahun sampai jutaan tahun silam. Gunung berapi yang memuntahkan lahar secara terus menerus. Lahar itu menggumpal dan sebagian gumpalan lahar yang menempel di dinding-dinding gua menjadi stalaktit dan stalakmit dalam periode ratusan tahun ada yang menjadi gumpalan-gumpalan batu mulia.

Kereta berjalan lagi. Sesaat kemudian kami berada dalam sebuah gua dengan stalaktit dan stalakmit yang berjajar di kanan-kiri kami. Beberapa diantara batu-batu yang menghujam itu ada yang berkilauan memantulkan warna merah, biru dan hijau.
Di pemberhentian berikutnya, kami seakan-akan berada dalam sebuah gua penggalian batu permata. Ada orang yang sedang mencangkul gua, memukul dinding batu untuk mencari batu-batu mulia. Mereka kemudian mengumpulkannya ke dalam sebuah ember. Seorang yang lain mendorong kereta mengambil batu-batu yang terkumpul lalu memasukkan ke dalam wadah lainnya yang tergantung pada sebuah tali. Di atas mereka teman-temannya menarik tali ke atas dan mengumpulkan batu-batu tersebut. Batu yang terkumpul akan dipilah-pilah oleh ahli permata untuk dipisahkan mana batu yang berharga mana yang tidak. Kemudian batu-batu itu dibawa untuk diolah menjadi batu mulia.

Pada pemberhentiian berikutnya ditunjukkan bagaimana metode yang lebih mudah dalam mengumpulkan permata. Dengan proses hidrolik, seorang menyiram dinding tebing dengan air, lalu air dialirkan dengan benda mirip talang, dikumpulkan ke sebuah penampungan di bagian bawah, lalu dengan peralatan sederhana, batu-batu itu langsung dipilah-pilah.

Visualisasi berikutnya menunjukkan bagaimana permata berbagai jenis itu diolah dan dibentuk sesuai dengan keinginan dan kebutuhan. Ada yang dijadikan perhiasan, ada yang dijadikan aksesoris pakaian raja, variasi pada bangunan istana juga untuk menghias kuil dan tempat peribahdahan. Benda-benada kerajaan seperti mahkota, tongkat raja, baju kebesaran dan berbagai kebutuhan lainnya.

Juga ditunjukkan bagaimana pengolahan dan pengguaan permata itu memiliki variasi yang berbeda-beda di berbagai negara. Ada yang dijadikan hiasan pada tenunan kain, ada dijadikan hiasan topi, selendang dan lain sebagainya. Bentuk permata juga bermacam-macam. Ada yang berbentuk prisma segitiga, kotak, kubus, bulat dan lainnya yang menurut inventarisasi mereka ada 154 jenis bentuk permata.

Logam mulia juga menjadi lambang kemakmuran sebuah negara. Dalam perjalanan kereta itu ditunjukkan bagaimana kebesaran negeri-negeri masa lalu yang selalu ditunjukkan melalui hiasan dari permata. Ada replika bangunan-bangunan di Mesir, patung raja-raja dan perlengkapan istana yang berhiaskan permata. Demikian juga ada replika dari negeri Cina, India, Roma dan seterusnya.

Pada sebuah pemberhentian berikutnya ada sebuah screen yang meunjukkan bagaimana permata menjadi lambang ungkapan cinta dari berbagai generasi. Permata yang menjadi simbol ungkapan cinta kepada orang-orang yang disayang. Visualisasi yang ingin menggiring para pengunjung agar membawa oleh-oleh permata untuk orang-orang tercinta mereka.

Bagian teakhir petualangan di gua permata ini ditunjukkan bagaimana proses pengolahan permata yang membutuhkan akurasi perhitungan, ketelitian, ketajaman dalam intuisi dan kesabaran. Ini menunjukkan betapa bernilai dan berharganya sebuah permata. Berbeda dengan visualisasi pada pemberhentian sebelumnya yang ‘alami’, disini visualisasi lebih futuristik dan menunjukkan kecanggihan teknologi. Mereka seakan-akan ingin menunjukkan bahwa galeri ini menggabungkan proses alami an kecanggihan teknologi dalam mengolah permata. Disini juga disampaikan bahwa Gems Gallery memiliki 4 cabang di 4 kota, Bangkok, Pattaya, Phuket dan Chiang May.

Keluar dari ‘gua’, kereta berhenti di sebuah ‘stasiun’ khusus. Kemudian kami dibawa melewati para pekerja yang sedang dengan tekun mengolah permata menjadi berbagai macam bentuk. Ada ratusan pekerja laki-laki dan perempuan dengan peralatan mereka sedang membentuk batu-batu mulia itu, memasannya pada cincin, kalung, dan perhiasan lainnya. Jenis logam mulia yang diolah juga bermacam-macam, ada ruby, diamond, gold, silver, jade dan logam jenis lain yang juga memiliki warna dan bentuk bermacam-macam.

Terakhir kami dibawa menuju ruang pameran permata yang sudah menjadi bentuk-bentuk perhiasan siap pakai. Semuanya terpampang pada ratusan etalase yang berjajar dengan dipandu oleh para Sales Promotion Girl galeri ini. Tentu saja mereka menawarkan kepada semua pengunjung untuk membeli permata menurut yang disukai. Harganya ada yang murah dan sampai yang paling mahal. Ada yang hanya ratusan Baht tapi juga banyak yang harganya puluhan ribu bahkan ratusan ribu dan jutaan Baht.

Kekaguman kami bukan hanya melihat permata-permata yang berkilau dan sangat menarik perhatian kami. Kami juga kagum bagaimana mereka mengemas sebuah presentasi menjadi visualisasi yang menakjubkan. Sebuah pengalaman yang mengesankan dan tidak akan terlupakan. Sebagaimana mengesankan permata-permata itu. Pengalam di Gems Gallery adalah memorable experience yang luar biasa.

Saturday, 29 March 2008

Eksotika Pattaya


Pattaya terletak kurang lebih 240 km sebelah tenggara Bangkok. Perjalanan bis bisa ditempuh dengan 3-4 jam. Kawasan wisata yang sangat terkenal dengan wisata baharinya ini memiliki beraneka macam pesona yang menawan.

Pantai yang terletak di wilayah Samudera Pasifik memiliki beragam eksotika yang menarik para wisatawan baik Asia maupun belahan benua lainnya. Pantai yang indah dengan pasir yang halus bisa menjadi teman menikmati tenggelamnya matahari. Para wisatawan Eropa biasanya berjemur mulai dari pagi hari menikmati cahaya matahari.
Di spanjang pantai berdiri hotel-hotel berbintang dan sarana wisata lainnya. Salah satunya adalah Hard Rock Café. Sebuah replika gitar berukuran raksasa menjadi icon kawasan ini dengan berlatar belakang Hard Rock Hotel.

Kawasan wisata Pattaya terkenal ke seluruh dunia karena kelengkapan sarana wisatanya yang terkenal dengan 5S (sand, sea, sun, show dan sex). Sand karena pantainya yang bagus dengan pasirnya yang halus. Sea adalah pemandangan laut dan olahraga air yang lengkap, seperti jetski, boat, cruiser, sampai kapal pesiar semua ada di Pattaya Beach. Sun adalah karena pemandangan matahari terbit dan terbenam yang eksotik. Show adalah karena disini pengunjung dimanjakan berbagai macam show yang menjadi trademark tersendiri seperti Cabaret Show di Alcazar, Model Show dan show-show yang lain. Termasuk juga Sex, yang sangat terkenal di dunia bahwa kawasan ini adalah termausk salah satu pusat kegiatan dewasa nomor satu di dunia.

Untuk mencari tempat menginap sama sekali bukan masalah sulit disini karena ada puluhan hotel berbintang di sepanjang pantai. Restoran dan kuliner lain juga dengan mudah kita dapatkan disana. Gallery, mall dan tempat belanja lainnya tentu saja menyertai para pengunjung setiap waktu.

Di malam hari, kawasan ini menjadi semakin ‘hidup’. Beraneka ragam show, bar,live music, traditional massage, body massage dan aneka massage lainnya.

Salah satu show yang menjadi simbol wisata di Pattaya adalah Cabaret Show. Bahkan ada pemeo belum ke Pattaya sebelum melihat show para waria ini. Bertempat di sebuah gdeung yang bernama Alcazar, show ini menarik perhatian banyak wisatawan. Bahkan untuk bisa menikmati show ini, para pengunjung harus melakukan reservasi paling tidak sehari sebelumnya agar tidak kehabisan tempat. Jumlah tempat terbatas, hanya 960 kursi sekali pertunjukan. Pengunjung cuma perlu membayar 600 Baht untuk sekali show-time. Pertunjukan ini menampilkan kebolehan para waria. Meskipun bukan wanita tulen, tapi kecantikan para waria yang tampil dalam pertunjukan ini bisa mengecoh penglihatan kita.

Malam hari di Pattaya menjadi sebuah momen untuk rileks bagi para wisatawan. Jika ingin mengendorkan otot, di sepanjang jalan dan banyak tempat tersedia berbagai jenis massage. Jika Anda bukan tipe orang yang suka menikmati show, silakan memilih aktivitas belanja. Salah satu hipermarket terkenal Big-C yang terletak tidak jauh dari Alcazar bisa menjadi alternatif. Saya sendiri lebih senang menghabiskan waktu di warnet yang ada di Mall tersebut untuk mengecek email dan meng-update blog sambil menikmati secangkir kopi instant.